Ilmuwan Jepang Berhasil Ciptakan Robot Berbentuk Bola Yang Bisa Terbang


Seorang ilmuwan Jepang baru saja menciptakan sebuah alat dengan desain yang revolusioner. Para peneliti yang bekerja untuk departemen pertahanan Jepang tersebut berhasil menciptakan sebuah alat berbentuk bola yang dapat terbang.
Penciptaan robot berbentuk bola tersebut terbilang sangat mutakhir. Robot ini dapat melaju dengan kecepatan 60 km/jam. Robot ini memiliki bobot 350 gram dengan diamter 42 sentimeter.
Biaya penciptaan robot tersebut pun terbilang murah. Hampir sebagian besar bagian-bagiannya terbuat dari barang bekas. Total biaya pembuatannya mencapai 1400 USD atau sekitar 12 jutarupiah.
Ayo kita lihat video robot bola ini beraksi:

Gaji Profesor Di Indonesia Lebih Rendah dari Guru SD


Ketidakpedulian pemerintah terhadap kegiatan riset antara lain dibuktikan dengan rendahnya gaji profesor riset. Bahkan, gaji berikut tunjangan seorang profesor riset yang berada dalam pangkat tertinggi golongan IV/E masih lebih rendah daripada gaji guru sekolah dasar di Jakarta dan sekitarnya.
Gaji pokok seorang profesor riset golongan IV/E di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, saat ini Rp 3,6 juta per bulan. Gaji ini ditambah tunjangan peneliti Rp 1,6 juta per bulan. ”Jadi, total gaji yang saya terima Rp 5,2 juta per bulan,” kata Prof Dr Ir Jan Sopaheluwakan, MSc, pakar ilmu kebumian yang sudah bekerja sekitar 30 tahun di LIPI.
Pendapatan seorang profesor riset yang menduduki jabatan struktural sedikit lebih tinggi karena mendapatkan tunjangan jabatan Rp 3,2 juta per bulan.
”Gaji pokoknya sama, Rp 3,6 juta per bulan, dan tidak bisa naik lagi karena sudah berada dalam golongan pangkat tertinggi IV/E,” kata Prof Dr Ir Bambang Subiyanto, MAgr, pakar biomateria yang juga Kepala Pusat Inovasi LIPI, di Jakarta, Senin (24/10/2011).
Meski mendapatkan tunjangan struktural, gaji profesor riset yang sudah menempuh pendidikan S-2 dan S-3 di perguruan tinggi luar negeri tersebut tetap saja lebih rendah dibandingkan dengan gaji guru sekolah dasar.

Perempuan Yang Tipe Ginian Gan Digemari Para 'Playboy'

Headline
Sebuah penelitian mengungkapkan seseorang dapat menilai perilaku orang lain dalam hubungan asmara dengan mempelajari karakteristik wajah mereka.

Penelitian tersebut menyimpulkan laki-laki yang memang berniat hanya mencari hubungan one-night atau sesaat saja, dianjurkan untuk mencari perempuan dengan mata besar seperti Charlize Theron dan Christina Ricci.


Sedangkan bagi perempuan yang berminat membangun keluarga, hindari laki-laki tipe macho seperti Bruce Willis dan beralih pada laki-laki dengan wajah lembut seperti Leonardo Dicaprio, demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Durham.


Penelitian itu melibatkan 700 responden laki-laki dan perempuan yang ditanyai tentang hubungan asmara sesaat. Para responden itu kemudian juga diminta untuk menilai daya tarik karakter seseorang dari perilaku sehari-hari sampai pada perilaku seks melalui sebuah gambar atau foto.


Hasilnya cukup mengagetkan, "Lebih dari 72% responden menilai karakter seseorang melalui perilaku seks mereka, demikian tertulis dalam jurnal Evolusi dan Perilaku Manusia.


Lucunya, menurut pengakuan responden, hasil ini ternyata cukup membantu apalagi saat mereka tidak dapat mengerti perilaku pasangannya tentang hubungan yang sedang dijalani.


"Meskipun laki-laki tidak selalu tahu perempuan mana yang memiliki minat lebih besar untuk menjalin hubungan jangka pendek, namun biasanya perempuan yang bisa diajak menjalin affair singkat, memiliki daya tarik lebih," kata Dr. Lynda Boothroyd seorang peneliti.


"Kebalikannya, para perempuan sangat tertarik dengan laki-laki yang menyukai komitmen," ujar Dr. Lynda lagi. Laki-laki gagah dengan rahang persegi, hidung mancung lurus dan mata kecil dianggap lebih terbuka dengan affair singkat dibanding laki-laki yang memiliki tampilan wajah lebih lembut.


Sementara itu, wakil peneliti Dr. Ben Jones dari Universitas Aberdeen menambahkan banyak penelitian telah menunjukkan bahwa setiap orang dapat menilai orang lain melalui wajah mereka termasuk hal lain seperti kesehatan dan bahkan sifat individu.


"Namun penelitian ini adalah yang pertama yang mengungkapkan bahwa masyarakat ternyata juga peka membaca sinyal-sinyal di wajah dan menilai tentang perilaku dalam hubungan asmara," ungkapnya.


Penelitian sebelumnya yang dilakukan Dr. Lynda juga menunjukkan bahwa perempuan menganggap seseorang laki-laki dengan tipe wajah gagah dianggap sebagai laki-laki dingin, dominan dan tidak setia.


Sebaliknya, wajah laki-laki yang lembut, feminin justru dinilai sebagai pribadi yang hangat, penyayang dan berkomitmen, seorang laki-laki tipe laki-laki pecinta keluarga.

Astaga!!! Orang Sakit Jiwa di Jakarta Tumbuh 100%, Pertanda Apakah Ini?


Berita terkini di Kompas.com menyebutkan bahwa jumlah penderita sakit jiwa di DKI hinga Triwulan  dua  tahun 2011 telah mencapai angka 306.621 orang. Jika dibandingkan dengan kasus yang sama pada tahun 201o tercatat jumlah penderita sakit jiwa sebanyak 150.029 orang ini berarti terjadi pertumbuhan penderita sakit jiwa di DKI hingga 100%.
Jumlah penderita tersebut jika dibandingkan dengan  total penduduk Jakarta (katakanlah) 10 juta jiwa, angka tersebut sangatlah minim, hanya 3% saja dari total populasi. Akan tetapi kita tidak dapat menganggap enteng persoalan tersebut karena selain jumlahnya yang semakin bertambah secara signifikan juga tumbuhnya penderita gangguan jiwa itu menjadi ancaman gangguan stabilitas dalam masyarakat yang berpotensi menjadi pemicu berbagai  ketidak keharmonisan dalam masyarakat DKI pada khususnya.
Jika masyarakat DKI banyak mengalami gangguan jiwa juga dikhawatirkan alam kota Jakarta yang merupakan maskot ibukota negara RI sedikit tidaknya akan mengalami gangguan sosial dan memperlemah nilai-nilai kebersamaan dan silaturrahmi yang selama ini justru menjadi ikon atau ciri khas bangsa Indonesia.
Apa yang dimaksud dengan penyakit jiwa dalam pemberitaan kompascom tidak disebutkan secara detail, namun untuk sekadar membantu saja berikut ini dapat dilihat pengertian penyakit jiwa yang dimaksud itu seperti apa kira-kira batasannya.
Sakit Jiwa tidak sama dengan penyakit jiwa.
Dari sisi pengetahuan umum, beberapa informasi dalam bahan tulisan yang ada, kita  dapat  mengenal “bagian terluar”  tentang Sakit Jiwa itu dikenal dengan istilah Psikopat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dari dua suku kata, Psyche dan pathos. Psyche artinya artinya jiwa dan Phatos artinya penyakit. Sedangkan orang yang menderita sakit jiwa disebut dengan sosiopat, karena orang ini berpotensi berperilaku antisosial atau anti bersosialisasi dan juga besar kemungkinannya merugikan kerukunan dalam bersosial. Jadi secara harfiah Sakit Jiwa itu dikenal dengan istilah Psikopat.
Penyakit Jiwa, berkaitan gangguan mentalitas yang mengganggu otak sehingga memicu terjadinya gangguan emosi, gangguan cara berpikir, gangguan persepsi, gangguan konsentrasi dalam jangka panjang dan bermuara pada gangguan kejiwaan, misalnya stress, uring-uringan, negative thingking dan sebagainya.  (Mohon diluruskan oleh rekan pembaca yang lebih berkompeten dari profesi medis jika hal ini kurang lengkap -red).

Jadi yang menjadi fokus dalam tema pembahasan kita kali ini adalah tentang Sakit Jiwa, bukan Penyakit Jiwa. Artinya kita membahas tentang fenomena semakin tingginya pertumbuhan Psikopat di DKI Jakarta. Kota yang yang menjadi benchmark berbagai hal se tanah air ini ternyata sudah banyak dijejali oleh para psikopat dan berpotensi membuat Jakarta semakin tidak nyaman karena alasan disebutkan di atas, yakni sikap utama para psikopat adalah antisosial.
Komunitas Psikopat.
Jika ada sebuah organisasi yang memayungi sebuah kegiatan sebuah persekutuan atau pagauyuban tertentu dengan nama lembaga tidak halnya dengan psikopat. Sebab jika para psikopat ini berkumpul yang terjadi di sana mirip suasana di DPR Senayan, tak ada yang merasa harus mendengar, yang ada hanyalah “Dengarkanlah Saya” atau “Akulah yang paling benar” atau bisa juga “Kalian tidak tahu apa-apa” bahkan ” Dasar kamu tahunya cuma protes” dan sebagainya. Jadi memang tidak ada lembaga paguyuban untuk psikopat di manapun di negeri  ini.
Akan tetapi, jika kita mau sejenak meluangkan waktu, kita akan temukan ternyata psikopat atau penderita sakit jiwa alias psikopat itu berasal dari berbagai kalangan. Psikopat meyerang calonnya tanpa mengenal usia, jenis kelamin, tingkat sosial dan agama. Siapa saja yang mempunyai kesempatan menjadi korban penyakit ini maka ia akan menjadi psikopat. Dan yang paling mengerikan suervey membuktikan penyakit yang satu ini TIDAK akan bisa disembuhkan sekali dia menyerang.
Dengan demikian fenomena semakin tingginya pertumbuhan psikopat di Jakarta akan semakin mengkhawatirkan ketenangan kota Jakarta bukan? Tak heran kita temukan semakin banyak modus operandi penipuan, pembunuhan, penyelewenagan, penistaan, pelecehan dan anti tatakrama dan anti sosial lainnya yang tidak kita mengerti darimana idea negatif itu bisa muncul dan menjadi perilaku pada diri seseorang (Psikopat).
Ancama badai Psikopat akan melanda negara kita.
Mengapa perkiraan ini perlu menjadi warning dalam tulisan ini? Karena berdasarkan penjelasan dan data di atas jumlah psikopat itu semakin bertambah dengan pesat, selain itu ancaman gangguan stabilitas sosial dan terganggunya nilai-nilai moral dalam masyarakat menjadi terancam. Sementara itu di sisi lain, jumlah penderita SAKIT JIWA secara nasional telah terindikasi mencapai 11% dari total 251 juta orang  populasi negara kita atau mencapai hampir 30 juta jiwa. Bayangkan jika sebuah negara berpenduduk 30 juta jiwa tapi semua penghuninya mengalami hal seperti ini, apa jadinya?

Dengan jumlah yang mencapai 11% penderita penyakit jiwa dan pertumbuhan yang signifikan dan sangat ekstrim di ibukota ditambah lagi dengan bukti demi bukti gangguan dalam bersosial semakin tinggi ini saja sudah merupakan ancaman besar.
Ironisnya di sisi lain, jumlah puskesmas di seluruh tanah air yang mencapai 9000 unit itu tidak seluruhnya memenuhi syarat. Bahkan puskesmas di beberapa daerah terpencil seperti di Kalbar tak ubahnya tempat penyimpanan sawit dan gersang, kumuh tak ada tanda-tanda kehidupan.
Di beberapa tempat, puskesmas itu ada yang hanya buka 2-3  hari saja dalam sebulan, selebihnya jadi gudang atau hiasan bangunan di kecamatan. Mencari dokter puskesmas apalagi tenaga ahli di puskesmas memang sangat mustahil. Jadi tak heran jika kita temukan pendirita penyakit jiwa semakin berang saat datang berkunjung yang ditemukan hanya pintu pagar puskesmas yang terkunci dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Selain itu, menurut data informasi BPS, di seluruh Indonesia terdapat 9000 puskesmas tapi puskesmas yang melayani jasa penyakit kejiwaan hanya ada 70 unit saja, umumnya di ibukota provinsi dan paling banyak di Jakarta saja. Ini juga menjadi persoalan serius karena penderita penyakit jiwa tidak saja ada di Jakarta dan konsumsi orang Jakarta melainkan juga sampai ke daerah-daerah. Kemana mereka akan mengadukan atau berkonsultasi tentang  penyakitnya? Jika terlalu jauh tentu tidak akan sepadan dengan ‘kemampuan’  mereka yang di daerah.
Penutup
Kesimpulannya, pengumuman pemerintah yang memperlihatkan keprihatinan mendalam melihat pertumbuhan penderita penyakit jiwa kesannya hanya untuk sekadar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober yang jatuh pada hari ini.
Upaya memberantas dan mengurangi penderita penyakit jiwa tidak terlalu serius dan tak perlu ambil pusing. Kesannya seolah-olah sudah “suratan takdir” dan “Nasib di badan” orang penderita penyakit jiwa menjadi psikopat. Atau bisa saja psikopat memang cara yang tepat untuk menjadi pejabat dan birokrat di negeri ini?
Lihat saja keseriusan pemerintah, dari 9000 puskesmas hanya 70 yang kompatibel dengan persoalan penyakit masyarakat ini. Bukan saja jumlah puskesmas yang mencapai ribuan itu tidak produktif dan tidak aktif, tapi juga perbandingannya sangat kecil dengan jumlah penderita sakit jiwa mencapai 30 juta orang di seluruh tanah air.
Dengan demikian kita jadi bertanya, hendak mau dibawa kemana negeri ini jika diisi (sengaja ataupun tidak) oleh para psikopat yang menderita sakit jiwa? Inikah yang kita lihat pada pentas politik dan pemerintahan nasional saat kita sering melihat banyak pejabat negara dengan model, tingkah dan polah berikut ini :
  1. Semakin banyak pejabat dan birokrat  dari berbagai lembaga negara yang terang-terangan tidak perlu merasa malu dalam korupsi, kriminal dan kurang ahli di bidangnya.

  2. Semakin banyak pejabat dan birokrat  dari berbagai lembaga negara yang terlibat berbagai skandal yang jelas-jelas membodohi masyarakat.

  3. Semakin banyak pejabat dan birokrat  dari berbagai lembaga negara  yang tidak perduli tentang nasionalisme dan cinta tanah air. Mereka lebih mementingkan menambah  kekayaan dan pundi-pundinya ketimbang berbicara soal nasionalisme.

  4. Semakin banyak pejabat dan birokrat  dari berbagai lembaga negara yang bermuka/wajah tembok meskipun kesalahan dan kebodohannya telah terungkap dan dipastikan salah.

  5. Semakin banyak pejabat dan birokrat  dari berbagai lembaga negara yang terlibat dalam jaringan kejahatan tapi mampu menutupi kejahatannya berkat kerjasama yang apik satu dengan lainnya. Misalnya, tiba-tiba saja koruptor bisa LUPA INGATAN..!
Berdasarkan kondisi di atas, wajar soal penyakit jiwa ini menjadi sorotan dunia Internasional untuk dijadikan agenda pemberantasan di seluruh dunia dengan mencanangkannya sebagai “Hari Kesehatan Jiwa Se Dunia.” Tujuannya untuk mengeliminir ancama gangguan yang meresahkan bagi masyarakat beradab yang mendambakan ketenangan, keterbukaan, cinta kasih, profesionalisme, kejujuaran dan perduli terhadap peningkatan kualitas bangsa masing-masing.

Sumber www.kompasiana.com

Film Jackie Chan ke-100 “1911″ tentang Revolusi China 100 Tahun yang Lalu


Anda masih ingat dengan sebuah film bagus di tahun 1987? Film yang berhasil meraih 9 Piala Oscar, termasuk Film Terbaik 1987? Ya, dia adalah The Last Emperor, karya sutradara Bernardo Bertolucci.
The Last Emperor, menceritakan masa-masa terakhir pemerintahan Dinasti Qing, yang sekaligus mengakhiri sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di China yang telah berlangsung selama berabad-abad, dengan fokus pada kisah hidup kaisar terakhirnya, Pu Yi (7 Februari 1906 – 17 Oktober 1967) .
Dinasti Qing (1644 – 1911) runtuh sekaligus juga melenyapkan sistem pemerintahan monarki di China selamanya, sebagai hasil dari terjadinya revolusi di China, yang memang menghendaki sistem kerajaan diganti dengan sistem republik.
Adalah Sun Yat-sen (12 November 1866 – 12 Maret 1925) yang merupakan tokoh utama dari meletusnya revolusi China (Xīnhài Gémìng) tersebut. Yang sudah lama merasa muak dengan sistem kerajan yang sangat feodal, yang mendewa-dewakan seorang kaisar dengan pemerintahan yang penuh intrik dan korupsi.
Revolusi China 10 Oktober 1911, di bawah pimpinan Sun Yat-sen berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing di bawah Kaisar Pu Yi pada 12 Februari 1912. Menjadikannya sebagai kerajaan dan kaisar terakhir yang pernah dimiliki China.
Sun Yat-sen kemudian mendirikan Republik China, dengan partai politiknya yang merupakan partai politik moderen pertama dan tertua dalam sejarah China, dengan nama Kuomintang. Menjadi Presiden pada tahun 1912, dan 1923 - 1925.
Setelah Sun meninggal dunia, Chiang Kai-shek sebagai Panglima Tentara Revolusi Rakyat melanjutkan cita-cita revolusi Sun untuk mempersatukan seluruh Tiongkok di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang.
Perang saudara yang berkepanjangan antara kubu Nasionalis dengan kubu Komunis di bawah komando Maozedong akhirnya dimenangkan oleh kubu Komunis pada 1949. Mao kemudian membentuk Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949. Sedangkan Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa (Taiwan), meneruskan bentuk pemerintahan dengan nama resmi Republik China. Dengan tetap merayakan hari kemerdekaan setiap tanggal 10 Oktober (10-10). Biasanya diistilahkan dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.
Di Republik Rakyat China, Hongkong, dan Makau diperingati sebagai Hari Revolusi China, atau Revolusi Xinhai. Sebagai tolok ukur berakhirnya bentuk pemerintahan Kerajaan, diganti dengan bentuk Republik.
Nah, kalau The Last Emperor fokus ceritanya pada masa-masa kejatuhan Dinasti Qing akibat dari berhasilnya perjuangan revolusi rakyat China yang dipimpin oleh Sun Yat-sen itu, maka pada bulan Oktober 2011 ini, dirilis sebuah film yang fokus ceritanya pada sisi perjuangan kaum Nasionalis pimpinan Sun Yat-sen. Sekaligus untuk memperingati tepat 100 tahun sejarah Revolusi China.
Film dengan judul 1911 Revolution (Xīnhài Gémìng) ini dibintangi oleh Jackie Chan, Bing-Bing Li, Winston Chao (sebagai Sun Yat-sen), Joan Chen, dan lain-lain. Uniknya film ini juga merupakan filmnya yang ke-100.
Jackie Chan juga menduduki posisi produser dan sutradara untuk film ini bersama dengan Li Zhang (cinematogrrafi Red Cliff).
Terdapat beberapa hal “kebetulan” yang unik di seputar sejarah dan film 1911 Revolution (selanjutnya, disebut 1911) ini; Sun Yat-sen sebanyak 11 kali melakukan gerakan revolusi itu. Pada gerakan yang ke-11 barulah perjuangannya itu berhasil. Gerakan revolusi ke-11 itu secara resmi dimulai pada 10 Oktober 1911 (10-10-11). Oktober 2011 ini tepat 100 tahun sejarah revolusi tersebut.

Secara “kebetulan” dalam rangka memperingati haribersejarah bagi rakyat China, baik yang di China daratan, maupun di Taiwan, dibuatlah film 1911, dengan sutradara dan bintang utamanya Jackie Chan, yang juga merupakan film ke-100 yang dibintanginya. Boleh dikatakan bahwa ini juga merupakan film serius pertama Jackie Chan. Karena selama ini Jackie Chan selalu dikenal sebagai bintang laga komedi (kungfu).
Selain itu, 1911 merupakan film asing (Asia) pertama di Amerika Utara yang diputar hampir bersamaan dengan jadwal pemutaran perdana di negara asalnya. Hanya berselang 2 minggu dari pemutaran perdana di China (23 September 2011), film ini diputar secara terbatas di Amerika Utara pada 7 Oktober 2011.
Presiden Well Go USA, Doris Pfardrescher, perusahaan yang mengimpor dan mendistribusikan film 1911 di Amerika Utara itu, mengatakan bahwa pemutaran film ke-100 Jackie Chan tersebut di Amerika Utara senagja dibuat bersamaan waktunya dengan jadwal pemutaran di China, sebagai suatu perwujudan penghormatan mereka terhadap nilai sejarah dalam film itu dan pengabdian Jackie Chan selama lebih dari separoh umurnya di dunia film.
We are honored to be part of “1911″ on many levels , not only because of its historical significance but also because it’s Jackie’s 100th films, Jackie Chan is an icon and it’s just thrilling for us to be able to bring this film to his North American fans on the same day and dates as Asia’s theatrical release.” (Doris Pfardrescher) - Dikutip dari Hollywood Reporter
Film 1911 juga mendapat kehormatan khusus di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-24 di Tokyo Jepang, yang mulai berlangsung dari tanggal 22 - 30 Oktober 2011, dengan menjadi film pembuka festival yang khusus. Karena sudah menjadi kebiasaan yang berlangsung lama bahwa di festival tersebut hanya dipilih satu film pembuka saja. Yang terpilih tahun 2011 ini adalah The Three Musketeers. Tetapi karena nilai sejarah dalam 1911 dan peran Jackie Chan di dalamnya, diputuskan bahwa selain The Three Musketeers, juga diputar film 1911.
Jackie Chan yang rencananya akan hadir dalam acara pembukaan TIFF 2011 itu menyampaikan rasa terima kasihnya atas begitu tinggi penghargaan yang diberikan kepada dirinya. Dia juga mengharapkan bahwa film ini akan ikut menjadi motivator bagi rakyat Jepang untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana tsunami dahsyat pada Maret 2011 lalu.
“I am privileged to have my 100th film selected as the special opening film for this significant year in which Japan has taken its first steps toward recovery, … When a major disaster strikes, heroes arise who are willing to sacrifice themselves….At this time, as Japan faces the aftermath of disaster, I truly hope my film can be of help to the people of Japan.” demikian pernyataan Jackie Chan, yang dikutip dari Hollywood Reporter.
Dari dua momen tersebut di atas, apresiasi terhadap film ini dan Jackie Chan di Amerika dan Jepang, dapat kita lihat bagaimana sosok seorang Jackie Chan yang begitu dihormati. Bukan hanya di Hongkong, China, tetapi juga di beberapa negara. Bahkan sampai di Amerika yang dikuasai Hollywood, sampai d Tokyo, Jepang.
Jackie Chan bukan dihormati karena pengabdiannya dalam dunia film saja, yang bertepatan dengan filmnya yang ke-100 tentang Revolusi China yang ke-100, tetapi juga karena kepribadiannya yang memang menyenangkan orang lain, jauh dari sombong, sangat dikenal sebagai orang yang berjiwa sosial tinggi.
Pada waktu terjad bencana tsunami dahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004 , Jackie Chan juga memberi sumbangan sebanyak 5 juta Dollar AS, dan menyempat dirinya bersama sejumlah artis Hongkong lainnya mengunjungi langsung lokasi pengungsian di Aceh.
Dalam film 1911 ini Jackie Chan berperan sebagai Huang Xing (25 Oktober 1874 - 31 Oktober 1916). Huang Xing adalah seorang panglima perang pertama Republik Cina yang berperan penting dalam perang Revolusi China yang kemudian berhasil meruntuhkan Dinasti Qing. Juga adalah sahabat terdekat Sun Yat-sen. Keduanya dikenal sebagai “Dwi-Tunggal” dengan sebutan “Sun-Huang”. Keduanya mendirikan Kuomintang dan Republik China, paska runtunhnya Dinasti Qing.
Bagaimana dengan film ini sendiri? Apakah akan mendapat pujian dari para kritikus film, atau sebaliknya? Apakah dia akan sukses secara komersial, maupun mendapat sambutan positif dari para kritikus film, atau sebaliknya?
Sambil menunggu tanggal mainnya di Indonesia, sebuah review dari Hollywood Reporter dengan link ini, bisa kita gunakan sebagai tolok ukur mengira-ngira bagaimana nilai film ini menurut selera kita. Untuk kemudian menentikan apakah patut ditonton ataukah tidak.
Ini film serius (pertama) dari Jackie Chan, jadi jangan harap ada unsur komedi sedikitpun dalam perannya kali ini. Sebuah film tentang sejarah. Sehingga tentu saja hanya cocok dengan mereka yang benar-benar tertarik (dan ingin tahu) dengan sejarah terbentuknya Republik China melalui Revolusi China 1911 itu. 

Fakta Menarik Tentang Laki - laki dan Perempuan

Berikut ini adalah fakta unik antara laki - laki dan perempuan yang saya dapatkan dari kajian sebuah perbincangan dari beberapa nasa sumber yang insyaallah bisa dipercaya dan berikut daftarnya :

1. Rata-rata perempuan tidur lebih lama 1 jam saat malam dari pada laki-laki.

2. Balita perempuan cenderung lebih cepat berjalan dan berbicara, bayi laki-laki 2 bulan lebih lambat.
3. Lebih banyak kehamilan dan kelahiran dengan komplikasi (gangguan) saat mengandung bayi laki-laki ketimbang bayi perempuan.
4. Rata-rata berat otak laki-laki lebih berat 1,4 kg daripada berat otak perempuan.
5. Pergantian kelamin lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.
6. Perempuan kurang mampu menahan dingin disebabkan permukaan kulit yang lebih besar, sehingga lebih suka pada suhu ruang yang lebih hangat.
7. Laki-laki lebih suka bicara langsung sesuai tujuannya, sementara pembicaraan perempuan terputus-putus dengan keraguan dan perasaan. Disebabkan serabut penghubung antara belahan otak kanan ( intuisi ) dan kiri ( logika ) lebih sedikit pada perempuan. Sehingga ekspresi perasaan lebih mudah terjadi pada perempuan.
8. Perempuan lebih baik indra penciumannya disebabkan tingginya hormon estrogen yang diketahui sebagai aktivator reseptor penciuman.
9. Perempuan mempunyai 75 % lebih banyak kelenjar keringat/peluh ( yang menghasilkan bau badan ) daripada laki-laki.
10. Kemampuan indra laki-laki untuk mengecap rasa masam, manis dan masin lebih rendah pada perempuan.
11. Lebih dari dua kali pada perempuan cenderung homoseksual (menyukai sesama jenis) pada usia 45 tahun daripada laki-laki.
12. Pada saat usia tua perempuan mengalami kerontokan rambut, pada usia yang sama sebagian besar laki-laki mengalami kebotakan. Kebotakan disebabkan produksi berlebihan dari hormon androgen (hormon laki- laki ).
13. Berpapasan dengan perempuan pada jalanan ramai, laki-laki menghadapkan tubuhnya menghadap perempuan yang dilewatinya. Perempuan cenderung membalikkan badan, sering secara tidak sadar menempatkan tangan di depan badannya untuk melindungi dada.
14. Kira-kira 48 % laki-laki mendengkur ketika tidur, hanya 22 % pada perempuan.
15. Laki-laki lebih banyak memilih merah, dan perempuan warna biru.
16. Perempuan rata-rata 153 detik berada di toilet, laki-laki 113 detik.
17. Satu berbanding empat, perempuan dibanding laki-laki yang berbicara gagap.
18. Berdasarkan fakta yang ada perempuan menggunakan waktu hampir 2 kali lebih banyak untuk berbelanja dibanding laki-laki.
19. Perempuan secara umum yang lebih condong menentukan corak dan gaya pakaian yang dipakai.
20. Penelitian di sekitar rumah, anak perempuan lebih mudah dibohongi/diperdaya daripada anak laki - laki. Kalau di tempat anda ENTAHLAH…

sumber : dari mulut ke mulut

Kenapa Rata-rata Pria Indonesia Malas Pakai Kondom?

Menggunakan kondom disinyalir mampu mengurangi jumlah penularan HIV. Namun, penggunaan alat kontrasepsi ini di kalangan laki-laki sejak 2006 hingga sekarang tidak mengalami kenaikan. “Pengguna kondom hingga sekarang tidak lebih dari 20 persen,” kata Yanri Subronto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Koordinator Pokja layanan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIY, di Yogyakarta, Rabu 21 September 2011.
Ia menjelaskan, pada 2004-2006, yang terinfeksi dan berdampak mengalami HIV serta AIDS banyak dari pecandu narkoba. Namun, hal itu telah berubah, sejak 2007 hingga sekarang yang terinfeksi dan terdampak HIV dan AIDS dari kalangan pecandu narkoba justru mulai turun. Kini, mereka yang rentan mengalami infeksi diprediksi lebih banyak dari kaum heteroseksual.
“Lebih dari 50 persen yang terinfeksi dan terdampak HIV dan AIDS saat ini adalah karena heteroseksual,” ujarnya. Ia menambahkan, peningkatan orang yang terdampak AIDS di Indonesia saat ini naik delapan persen dan rata-rata dari pekerja seksual.
Sementara itu, dalam rangka penanggulangan, Komisi Penanggulangan AIDS mendorong para dokter di semua rumah sakit di Indonesia untuk melakukan tes HIV jika ada indikasi yang mencurigakan pada pasien. “Sekarang dokter harus mendorong pasiennya untuk melakukan tes HIV jika dia melihat ada indikasi yang mencurigakan pada pasien,” terangnya. Selain itu, kata dia, bagi yang terdampak HIV dan AIDS dilakukan terapi anti retroviral.

Indonesia Memang Bangsa Tempe!!

China dan Jepang telah lama terkenal suka mengolah kedelai menjadi makanan tradisional. Pun dengan Indonesia sudah beradad-abad lalu mengolah kedelai menjadi makanan tradisonal khas negeri ini, yaitu tempe. Tempe. Iya makanan yang sering dipandang sebelah mata ini memang asli Indonesia. Tempe sudah ada sebelum abad ke 16 di tanah Jawa, khususnya di daerah Solo dan Yogyakarta sekarang.
Nah ngomong-ngomong soal tempe makanan asli produk anak negeri —- sepertinya negara tetangga yang suka klaim, kali ini moga-moga gak minat dengan tempe — baru-baru ini televisi nasional dari Jepang, NHK mengadakan liputan mengenai tempe di daerah asalnya, Bantul, Yogyakarta. NHK mengadakan liputan tentang tempe dari tanggal 19 hingga 27 September 2011, keliling Jogya demi yang namanya Ngetemi eh maaf, tempe.
Menurut produser dari NHK, Chieri Kakuda. Keinginannya meliput pembuatan tempe di tempat asalnya kerena penikmat tempe di Jepang selama 5 tahun belakangan ini terus meningkat. Apalagi tempe mempunyai kesamaan, mirip dengan makanan tradisional negeri Sakura, Nato. Walaupun memang tempe belum bisa menyaingi ketenaran Nato di sana.
Rustono si Raja Tempe
Ketenaran tempe belakangan ini di Jepang tidak bisa tidak bila tanpa andil tangan dingin dan kerja keras seorang laki-laki dari kota kecil Grobogan Jawa Tengah yang telah tinggal dan berkeluarga selama 14 tahun di Jepang. Rustono nama laki-laki itu. King of tempe julukannya di sana. Mantab pisan.
Rusto’s Tempeh. Dengan label tersebut, tempe mampu menjadi makanan favorit yang menyebar hampir di seluruh kota di Jepang. Padahal dulu tempe produksi Rustono hanya diedarkan dari pintu ke pintu dengan skala produksi rumahan. Sekarang dalam 5 hari kapasitas produksinya mencapai 16.000 bungkus tempe ukuran 200 gram.
Itulah hasil dari perburuan ilmunya selama tiga bulan untuk mempelajari teknik pembuatan tempe kepada 60 pengrajin tempe di seluruh Jawa. Perjuangan itu akhirnya berbuah manis.
Mental Tempe atau bangsa Tempe?
Kata tempe pernah atau bahkan masih dipakai saat ini untuk menunjukkan sesuatu yang berkonotasi lembek. Lemah atau pecundang. Bung Karno sendiri sering menyebut kata tempe dalam pidatonya ” jangan menjadi bangsa tempe”.
Maaf bung Karno. Kalau saya berani katakan kalau kita kini telah benar-benar menjadi bangsa tempe. Bangsa tempe dalam arti yang sesungguhnya.
Kenyataan memang berbicara demikian. Indonesia merupakan produsen terbesar tempe di dunia dan pangsa pasar terbesar untuk kedelai di dunia. 50 % dari konsumsi kedelai di Indonesia dibuat menjadi tempe. 40% diolah jadi tahu dan 10 % sisinya jadi produk lainnya. Semisal kecap.
“Benar bukan kalau kita memang benar-benar bangsa tempe?”
Tempe makanan ajaib
Sudah banyak penelitian tentang tempe. Sudah banyak buku yang mengulas keajaiban tempe. Sehingga istilah otak tempe, mental tempe atau bangsa tempe(yang berkonotasi negatif) sepertinya sudah tidak relevan lagi dipakai untuk merendahkan.
Terbukti, tempe mempunyai kandungan protein yang tinggi. Bahkan kandungan gizi tempe ternyata mampu mengimbangi gizi yang dikandung oleh daging sapi. Sepotong tempe ukuran 50 gram sudah cukup mampu untuk mendongkrak mutu gizi 200 gram nasi. Wajar bila gara-gara tempe banyak tawanan perang dunia II saat pendudukan Jepang banyak terhindar dari diare dan busung lapar.
Belum aneka vitamin yang terkandung didalamnya. Ada vitamin B Komplek, A, D juga E. Lemak tak jenuh juga dikandung oleh tempe. Sangat cocok buat yang lagi perang dengan kolesterol jahat.  Disamping itu tempe juga mengandung mineral dan antioksidan yang diperlukan tubuh.
Tuhan itu Maha Adil. Terbukti, dengan makanan yang dipandang sebelah mata. Murah dan akrab dikonsumsi oleh rakyat kecil yang ada di luar tembok kaum elite, namun ternyata tempe lahir dengan segudang keajaibannya. Tempe hadir di atas meja makan kita dengan sejuta ceritanya. Tempe yang dulu diremehkan itu kini telah mendunia.
“Sudah makan tempe hari ini?” “saya makan satu, eh dua sama tahu” :D

Orang Terhormat dan Gila Kehormatan

Orang Amerika punya anggapan, orang terhormat adalah mendapatkan sukses dalam hidupnya, entah dibidang perdagangan, ilmu dan pengetahuan, industri, entahlah di bidang ketentaraan atau politik. Orang Jepang punya anggapan, orang terhormat adalah yang mempunyai banyak sahabat.

Orang Jawa dahulu punya anggapan yang lain lagi,orang yang terhormat adalah yang mempunyai kekuasaan atas sesamanya, yang menentukan hidup dan mati mereka, ini kata Pramudya Ananta toer.

Padahal predikat terhormat pada diri seseorang sebetulnya sangat sederhana, ketika seseorang banyak memberikan manfaat pada orang lain, maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan predikat tersebut, dan predikat itu yang memberikannya adalah orang-orang yang menghormati karena jasa-jasanya, jadi bukanlah karena posisi, pangkat dan jabatannya, justeru kadang kala posisi,pangkat dan jabatan tidak memberikan kehormatan pada orang yang memilikinya, apabila dia salah dalam memanfaatkan hal tersebut.

Kebanyakan dari pemimpin kita mengadaptasi dari anggapan orang Jawa, orang terhormat adalah, orang yang mempunyai kekuasaan atas sesamanya, yang menentukan hidup dan mati mereka, pemaknaan seperti ini diterapkan dalam kehidupannnya, maka ketika dia berkuasa maka dia paksakan orang lain harus hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak punya kehormatan atas kekuasaan tersebut, hal ini dikarenakan prilaku yang buruk, korupsi, menindas sesama bahkan menzolimi orang-orang yang ada dibawahnya, inilah kekuasaan yang tidak memberikan kehormatan apa-apa.

Betapa banyak yang kita lihat Pemimpin yang gila hormat, salah sedikit saja aturan protokoler penyambutannya apa bila dia berkunjung kesuatu daerah/tempat, maka habislah bawahannya yang mengatur penyambutan tersebut, sikap seperti ini adalah warisan feodal yang terus dilestarikan oleh para pemimpin kita, orang-orang seperti ini, ketika dia sudah tidak memiliki kekuasaan lagi biasanya akan terkena penyakit Post Power syndrome, sudah tidak punya kekuasaan dan kehormatan tapi masih merasa berkuasa dan tetap minta dihormati.

Tidak memiliki rasa kebangsaan juga bisa membuat orang lain hilang rasa hormatnya pada kita, adanya rasa kebangsaan akan mempertegas sikap hidup dan membangun kehormatan dalam diri setiap orang, dengan rasa kebangsaan akan timbul keinginan membangun kebersamaan, komunitas sebangsa yang membuat hidup akan terasa lebih hidup dan bermanfaat, seperti apa yang dikatakan seorang pemimpin Mesir yang termasyur, Mustafa Kamil;

“Oleh karena rasa kebangsaanlah, maka bangsa-bangsa yang terkebelakang lekas mencapai peradaban, kebesaran dan kekuasaan. Rasa kebangsaanlah yang menjadi darah yang mengalir dalam urat-urat bangsa yang kuat dan rasa kebansaanlah yangn memberi hidup kepada tiap-tiap manusia yang hidup”

Bagaimana anggapan orang Indonesia tentang orang terhormat ? Aku tak tahu, kata Pramudya Ananta Toer. Tetapi baik di Amerika, Jepang, Indonesia, atau bagian dunia manapun, barangsaiapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin dia tidak mempunyai kekuasaan barang sesuilpun, namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.

Ketika hidup tanpa memberi manfaat apa-apa baik pada diri sendiri maupun bagi orang lain, maka kita akan hidup tanpa kehormatan.

Apakah kita ingin menjadi orang terhormat ? jadilah orang yang banyak bermanfaat…..

Sumber : Kompasiana.com

Ternyata Terongnya Om Bob Sadino Disukai Orang Jepang

Orang Jepang tidak bisa hidup tanpa terong. Cobalah tengok di setiap kulkas mereka. Selalu ada terong (nasu) atau lobak (daikon), demikian dikatakan Bob Sadino, ikon entrepreneur Indonesia, di Tokyo, kemarin (24/9).
Saya beruntung mendapat kesempatan diajak makan siang oleh Om Bob Sadino, yang kebetulan sedang berada di Tokyo. Kami makan di warung Indonesia dan mencicipi “tumis terong” serta “terong dabu-dabu”. Di warung itu, Om Bob banyak bercerita dan membagi ilmunya, tentang terong, wirausaha, dan bagaimana melihat peluang pasar.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh Om Bob. Konsumsi terong di Jepang dalam satu tahun bisa mencapai lebih dari 10 juta kilogram. Orang Jepang mengolah terong menjadi berbagai macam olahan, mulai dari tempura hingga terong panggang dengan olesan miso (nasu no shigiyaki).
Dari sekian banyak konsumsi terong di Jepang, sekitar 1 juta kilogramnya dipasok oleh Om Bob dari Indonesia. Hal itu sudah dilakukan selama 20 tahun. Dan menurut Iyo-san, importir terong dan sayur-sayuran di Jepang, masyarakat Jepang sangat menyukai terong dari Om Bob. Konsumsi sayur-sayuran di Jepang terus meningkat seiring dengan tingginya kesadaran akan kesehatan. Terong, selain bagus untuk tubuh, juga dipercaya bisa menangkal kanker.
Kedatangan Om Bob Sadino ke Jepang memang bukan hanya soal terong. Ia diundang khusus oleh Dompet Dhuafa Jepang untuk membagi ilmunya pada masyarakat Indonesia di Tokyo dalam Training Kewirausahaan bertema “Sukses di Rantau”. Training diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Tokyo serta di Okayama, pada tanggal 24 dan 25 September 2011. Training tersebut dipandu oleh rekan  Rane Hafied, yang bekerja di NHK Jepang, dan dihadiri oleh lebih 100 orang mahasiswa dan pekerja Indonesia di Jepang.
Menurut Om Bob, kunci sukses adalah tidak mudah menyerah dan jangan takut untuk gagal. “Dengan kegagalan, kita bisa belajar bagaimana ke depan lebih baik lagi. Jadi, jangan pernah takut untuk gagal” kata Om Bob.
13169111751175561117Di hadapan masyarakat Indonesia di Jepang, Om Bob yang tampil dengan gaya khas baju kemeja putih kotak-kotak dipadu celana jins pendek menyampaikan pengalaman hidupnya tentang memulai sebuah usaha tanpa harus menggunakan modal besar. “Pikiran bahwa memulai usaha harus mendapat kredit dari bank itu pikiran yang goblok, bank juga merusak paradigma dengan segala macam proposal kredit”, demikian Om Bob dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
“Yang penting dalam usaha adalah kemauan dan berani menerima kegagalan. Semua usaha jenis apa pun akan tetap jalan. Dan usaha yang paling bertahan lama serta cocok di negara kita adalah agropreneur,” kata Om Bob yang juga menyebut dirinya sebagai seorang petani.
“Negara kita ini adalah negara pertanian yang kaya. Jangan pernah melupakan hal itu”, sambung Om Bob. Kisah ekspor terong ke Jepang adalah salah satu contoh yang ia bagi pada para peserta. Masih banyak lagi peluang untuk ekspor ke Jepang, karena besarnya konsumsi terong dan sayuran di Jepang.
Om Bob bercerita bahwa kreatifitas dan inovasi sangat diperlukan di bidang agrobisnis. Ia yang pertama memperkenalkan telor ayam negeri, ayam broiler, kacang edamame, jagung manis, dan tanaman hidroponik di Indonesia. Awalnya tidak ada pasarnya, tapi ia menciptakan pasar. Dan begitulah cara berpikir wirausaha sebenarnya.
“Sumber daya alam terbentang luas. kita bersyukur Indonesia alamnya subur dan kaya, tapi SDM Indonesia yang kurang mampu memanfaatkannya. Jarang sekali orang Indonesia yang mau menjadi petani”, sambung Om Bob lagi.
Om Bob mengatakan, peluang bisnis pertanian cukup besar, tidak hanya pasar internasional saja, tetapi pasar dalam negeri Indonesia juga sangat menjanjikan untuk perkembangan bisnis pertanian tersebut.
Bersama Om Bob Sadino, tampil pula pengusaha sukses Indonesia, Zainal Abidin yang juga dikenal dengan julukan Jay Teroris. Dalam pemaparannya, Jay membangkitkan semangat masyarakat Indonesia melalui bukunya “Monyet Aja Bisa Cari Duit”. Ini adalah buku tentang pengalaman Jay dalam memulai berbagai usahanya, dari bawah hingga sukses seperti saat ini.
Duet Om Bob Sadino dan Jay Teroris mampu membangkitkan semangat masyarakat Indonesia di Tokyo. Om Bob Sadino terkenal dengan gaya bicaranya yang unik, nyeleneh, jungkir balik, dan tidak bisa ditebak. Ia mencoba menggedor dan meruntuhkan pemikiran kita yang selama ini nyaman dan terperangkap dalam teori-teori sekolahan. Om Bob mengingatkan bahwa hidup ini tidak linear melainkan lateral. Kita juga kerap terbelenggu oleh pikiran-pikiran kita sendiri sehingga takut untuk memulai sesuatu.
Kembali ke soal pertanian, Om Bob berulangkali mengingatkan bahwa kekuatan bangsa ini adalah di pertanian. Tapi, mengapa orang Indonesia, terutama orang pintarnya, enggan menjadi petani?
Ia-pun mengajukan satu pertanyaan menggugah, “Mengapa kalau kita sekolah kedokteran, lulus menjadi dokter. Kalau sekolah militer, lulus jadi militer. Tapi mengapa kalau sekolah pertanian, lulusnya tidak jadi petani?”
Pertanyaan Om Bob itu mengajak kita merenung, adakah yang salah dengan konsep pembangunan dan pendidikan pertanian kita. Mengapa tidak banyak anak muda yang punya cita-cita ingin menjadi petani. Pertanyaan itu juga mungkin bisa menjelaskan, mengapa pertanian di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, seperti Jepang dan Thailand.
Siang itu, sayapun teringat dengan kawan-kawan yang peduli pertanian. Ada pak Syamsul Asinar, petani Cijapun, yang sedang belajar bertani di Jepang. Ada mas Imansyah Rukka, yang peduli pada pertanian di negeri ini. Dan masih banyak lagi lainnya. Mereka tidak hanya bicara soal pertanian, tapi juga memilih menjadi petani.